Selasa, 08 Januari 2013

Rumah Impian Rumah Mandiri

Sore itu awan mendung terlihat berkumpul. Matahari tidak menampakan cahayanya. Hembusan angin semakin kencang. “Ibu, sepertinya hari akan hujan!” sahutku kepada istriku. Istriku yang sedang menemani Andri anakku belajar, kemudian beranjak berdiri dan menghampiriku yang sedang berdiri di depan pintu. “Betul pak!. Sepertinya akan hujan deras. Biar ibu siapkan ember dulu!” jawab istriku sambil berlalu keluar menuju dapur. Hujan memang menjadi musuh kami. Jika hujan turun, maka rumah kami sudah pasti akan bocor. Hal ini telah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Berkali-kali kami adukan kepada pemilik rumah. Tapi hanya janji-janji saja yang kami terima. Tujuh belas tahun kami mengontrak rumah. Bukannya kami tidak ingin mempunyai rumah sendiri. Penghasilan kami sebagai guru PNS, tidak mencukupi untuk membeli rumah yang layak. Penghasilan kami berdua habis oleh kebutuhan sehari-hari dan untuk bayar kontrakan rumah. Sedangkan untuk membeli rumah diperlukan biaya yang cukup besar. Belum lagi tahun depan anakku akan masuk ke SMP, tentu saja dibutuhkan biaya yang besar pula. Tidak lama kemudian, istriku datang sambil membawa sebuah ember besar dan meletakkannya di dekat tempat yang bocor. Betul saja perkiraan kami, tidak lama kemudian hujan datang dengan derasnya. Setiap lima belas menit sekali aku harus mengganti ember yang penuh dengan air dengan ember yang kosong. Aku lalu membuang air dalam ember keluar rumah. Tapi untunglah hujan tidak berlangsung lama. Kulihat waktu telah menunjukan pukul delapan malam. Anakku terbaring di lantai dengan mengunakan kasur busa yang telah lepek. Sepertinya dia kelelahan belajar menghadapi ujian nanti. Disampingnya motor kesayanganku aku parkirkan. Ya, anakku tidur di samping motor yang aku parkirkan dalam rumah. Rumah kontrakanku jauh dari layak. Hanya terdiri dari satu kamar berukuran 4 x 4 meter, jelas tidak memadai. Belum lagi, jika malam tiba aku harus memarkirkan motorku di dalam rumah. Sedangkan untuk dapur dan kamar mandi, kami menggunakannya secara bersama-sama penghuni yang lain. Sebenarnya, aku sudah punya niat untuk memiliki rumah sendiri. Tapi harga yang ditawarkan jauh di atas kemampuanku sebagai guru PNS. Keesokan harinya seperti biasa, aku pergi mengajar di sekolah. Sedangkan istriku mendapat giliran mengajar di siang hari, begitu pula dengan anakku yang mendapat giliran sekolah di siang hari. Dengan mengendarai sepeda motorku, aku berangkat ke sekolah. Selesai mengajar aku tidak langsung pulang, sebab banyak tugas sekolah yang harus aku kerjakan terlebih dahulu. Tiba-tiba terdengar dari arah belakang. “Man…sedang apa kau?” tanya temanku Viktor seorang guru matematika yang berasal dari Medan. “Ah, kamu aku kira siapa. Biasa aku sedang mengerjakan silabus untuk keperluan sekolah,”. “Lho, bukankah kamu sudah buat itu dua minggu yang lalu?” tanya Viktor keheranan. “Betul, tapi rumahku kehujanan dan bocor, sampai silabus yang telah aku buat rusak terkena air hujan,” jelasku dengan nada sedih. “Maman…Maman…sampai kapan kamu akan bertahan di kontrakanmu yang hancur itu, Man?” tanya Viktor kembali. “Sebenarnya aku sudah tidak betah tinggal disana, Tor,” jelasku. “Lha, lantas apa yang menghalangimu?” tanya Viktor penasaran. “Aku sudah, mencari rumah untuk aku tinggali. Ternyata harganya selangit,” jelasku. “Maman…Maman..kamu lihat aku. Aku juga sama guru PNS sepertimu. Mana mungkin aku bisa beli rumah. Tapi aku pakai fasilitas KPR dari Bank Mandiri,” jelas Viktor. “KPR, apa itu?” tanyaku penasaran. “KPR itu singkatan dari Kredit Perumahan Rakyat. Jadi dengan fasilitas KPR, kamu tinggal bayar cicilan saja tiap bulan ke Bank Mandiri,” jelas Viktor. “Berapa lama aku harus mencicilnya?” tanyaku lagi semakin penasaran. “Itu tergantung kamu, bisa 10 tahun atau 15 tahun,” jelas Viktor kembali. “Jadi dengan membayar cicilan selama 10 atau 15 tahun aku bisa punya rumah?” tanyaku meyakinkan.”Betul sekali, kawan!” jawab Viktor dengan pasti. “Dimana, aku bisa mendapatkan KPR Mandiri?” tanyaku tidak sabar. “Kamu tinggal datang saja ke Bank Mandiri atau di http://www.bankmandiri.co.id/ atau lihat videonya di http://youtu.be/y5UicfHy3g0,” jelas Viktor menjelaskan. Sepulang dari sekolah aku menuju Bank Mandiri sesuai yang dianjurkan oleh Viktor. Aku penasaran ingin mengetahui lebih lanjut mengenai fasilitas KPR Mandiri. Setiba di Bank Mandiri, aku disambut dengan senyuman hangat petugas keamanan. “Siang, pak! Ada yang bisa saya bantu ?” jawab petugas tersebut. “Oh, anu.. Saya mau mencari informasi mengenai fasiltas perumahan,” jelasku. “Oh, fasilitas KPR Mandiri?” jelas petugaas tersebut. “Iya betul !” jawabku. “Silakan bapak ambil nomor antrian bapak. Nanti pada gilirannya nomor bapak akan dipanggil! customer service kami akan membantu bapak!” jelas petugas tersebut. Aku lalu mengambil secarik kertas yang bertuliskan sebuah nomor dan duduk di ruang tunggu. Tidak lama aku menunggu, nomorku dipanggil. Aku lalu bergegas menemui cutomer service yang dimaksud. “Siang, pak. Silakan duduk, ada yang bisa saya bantu?” tanya customer service tersebut ramah. “Anu, saya ingin menanyakan informasi mengenai fasilitas KPR Mandiri?” jawabku. Petugas tersebut lalu mengambil sebuah brosur. Dan menjelaskannya secara detail kepadaku. Setelah mendapatkan penjelasan dari petugas tersebut, akhirnya aku paham mengenai fasilitas KPR Mandiri. Akhirnya impianku untuk mempunyai rumah akan segera terwujud. Setelah dari Bank Mandiri. Aku lalu bergegas untuk menjemput istri dan anakku yang telah selesai di sekolah. Waktu menunjukan pukul lima sore. Kulihat awan mendung sudah berkumpul kembali. Pasti tidak lama lagi akan turun hujan deras. Akhirnya kupacu sepeda motroku lebih cepat kembali. Sesampainya di sekolah, istriku yang kebetulan satu gedung dengan sekolah anakku. Tidak lama menunggu mereka berdua sudah terlihat keluar dari gedung sekolah. “Ayo, bu. Kita harus cepat, hujan sebentar lagi akan turun!” jelasku. Akhirnya kami bergegas untuk pulang. Ditengah perjalanan pulang kami kehujanan. Terpaksa kami mencari tempat untuk berteduh. Lalu kutanya istriku, “Bu sudah kamu pasang ember untuk menahan bocor?” tanyaku. “Belum, ayah. Aku tadi tidak sempat,” jawab istriku. “Aduh, gawat kita harus cepat pulang kalau begitu,” jelasku khawatir. Akhirnya kami bertiga melanjutkan perjalanan di tengah derasnya hujan. Dengan tubuh basah kuyup terkena hujan akhirnya kami tiba di rumah kontrakan kami. Dan ternyata rumah kontrakan kami telah kebanjiran. Begitu kami buka pintu masuk kami lihat, kasur tempat anakku tidur sudah mengambang di atas air, buku-buku pelajaranku tergenang oleh air hujan. Tidak ada barang luput dari air hujan. Hanya dokumen penting saja yang selamat karena aku simpan di lemari bagian paling atas. Setelah hujan reda aku dan istriku mulai membereskan rumah kontrakan kami yang tergenang air. Buku-buku yang masih bisa diselamatkan aku keringkan diatas lemari. Sedangkan yang rusaknya terlalu parah aku buang ke tempat sampah. Akhirnya pekerjaan kami membereskan rumah selesai tengah malam. Kulihat anakku sudah tertidur terlelap diatas kasur tempat biasa istriku tertidur. Sedangkan aku dan istriku duduk kelelahan. “Bu, tadi siang aku pergi ke Bank Mandiri. Menanyakan fasilitas KPR,” jelasku. “KPR apa itu, pak?” tanya istriku. “KPR adalah singkatan dari kredit perumahan rakyat. Jadi kita bisa memiliki rumah dengan mencicil ke Bank,” jelasku lebih lanjut. “Oh, jadi seperti ibu mencicil panci ke Mang Amung,” jelas istriku. “Iya, kurang lebih seperti itu! Tapi dalam jangka waktu 10 atau 15 tahun.” Jelasku kembali. “Wah, lama sekali pak!” tanya istriku. “Memang, tapi itu tidak akan terasa. Aku sudah bosan hidup mengontrak seperti ini! Biarlah hitung-hitung kita mengontrak selama 15 tahun,” jelasku kembali. “Besok kita datangi perumahan yang ada di koran ini,” jelasku sambil menunjukan iklan perumahan di koran yang baru aku beli tadi siang. Keesokan harinya, kebetulan hari Minggu aku, istri dan anakku pergi menuju perumahan yang ada di koran. Satu jam perjalanan, akhirnya aku sampai juga di perumahan seperti yang ada di koran. Aku lihat baru sebagian rumah yang dibangun, selebihnya adalah hamparan tanah kosong. Aku lalu bertanya pada pekerja disana, letak kantor pengembang perumahan tersebut. Dan aku ditunjukan pada sebuah rumah yang terletak di dekat pintu masuk perumahan tersebut. Bergegas aku menuju ke rumah yang berfungsi sebagai kantor tersebut. Disana aku bertemu dengan bapak Wawan, sebagai bagian pemasaran perumahan tersebut. Dari beliaulah, aku menerima banyak informasi dan prosedur pengajuan KPR ke Bank Mandiri Keesokan harinya sesuai petunjuk dari bapak Wawan aku mendatangi Bank Mandiri. Di Bank Mandiri tersebut aku menerima berbagai macam penjelasan. Dan setelah itu dengan uang tabungan kami yang selama ini kami simpan. Aku gunakan sebagai uang muka untuk membeli perumahan tersebut. Ternyata prosedurnya tidaklah semudah yang aku bayangkan, sebelum rumah dibangun aku harus melalu proses wawancara dan juga akad kredit. Sampai akhirnya aku ditetapkan sebagai pemilik sah rumah tersebut. Setelah menunggu hampir satu bulan, akhirnya secara resmi aku memiliki rumah walaupun belum dibangun. Dan setelah menunggu pembangunan selesai, akhirnya aku miliki rumah dengan fasilitas KPR dari Bank Mandiri. Akan tetapi permasalah lain muncul, ternyata rumahku ini masih standar. Tanpa pengaman pagar depan dan benteng di bagian belakang. Sedangkan dana untuk membangun benteng belakang dan sebuah pagar dibutuhkan dana yang cukup besar. Aku lalu berkonsultasi lagi dengan Viktor temanku. “Tor, aku bingung nih,” jelasku. “Bingung kenapa?” tanya viktor keheranan. “Rumahku belum aku pagar dan belum aku beri benteng belakang. Sedangkan uangku sudah habis. Darimana aku dapat pinjaman uang untuk membangunnya?” jelasku. “Kamu pinjam saja ke Bank Mandiri!” jawab Viktor enteng. “Enggak ah, aku takut. Sebab tetanggaku saja yang pinjam ke Bank, begitu terlambat bayar cicilan, akan datang yang menagih dengan wajah seram bahkan sering berkata yang kotor dan kasar,” jelasku. “Itu jika kamu telat bayarnya!” jelas Viktor serius. Keesokan harinya dia mengantarku ke Bank Mandiri. Setelah memenuhi syarat-syarat yang dibutuhkan. Akhirnya aku bisa meminjam dana untuk perbaikan rumahku. Bahkan sisi uang tersisa, aku belikan sepeda motor untuk istriku. Sekarang rumahku sudah layak untuk dihuni. Tidak ada lagi air bocor di waktu hujan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar